Kamis, April 15, 2010

Hachiko

Pertarungan antara anjing Jepang dan anjing Amerika

Sangat keren film bertema loyalitas anjing bernama Hachi yang sudah melegenda di Jepang sana sampai dibikin seri komik, anime dan film sampai2 Hollywood juga kepincut buat ulang film yang judul asli “Hatchiko Monogatari” tentu dengan style berbeda. Untuk kali pertama Gw liat film dengan 2 versi, kalo sebelum2nya nonton satu versi aja cukup tapi Hachiko beda, so Gw liat dulu versi asli buatan Jepang (1987) karya sutradara Seijirô Kôyama baru beberapa hari kemudian liat versi Amerika. Eeeeemm meski punya akar cerita sama namun “rasa” beda banget. Jadi bersemangat neh membandingkan versi Jepang VS Amerika, tentu fair kan membandingkan media sederajat, lain jika kita bandingin film dengan novel. Oh iya dalam tulisan nanti akan sangat banyak spoiler2 cerita.

PERINGATAN KERAS! TIDAK DIANJURKAN UNTUK ORANG2 YANG BELUM MELIHAT HACHIKO DAN INGIN MENDAPATKAN SENSASI KEJUTAN KETIKA MENYAKSIKAN NANTI!!!!.

Tanpa buang banyak kata (lagi) mari mulai “membandingkan”

Pertama dari unsur cerita. Hachiko versi Jepang (HJ) bercerita tentang seekor anjing keturunan langsung Akita* yang sudah lama dinantikan Chizuko anak seroang profesor agrikultur Universitas Tokyo Hidesaburō Ueno. Maka setelah beberapa hari menempuh perjalanan kereta Ōdate (perfektur Akita) – Sibuya tiba juga si anak anjing di kediaman Oeno, tentu seisi keluarga sangat bahagia meski si ibu Chizuko sempat khawatir anaknya akan depresi lagi kaya waktu dulu kehilangan anjing kesayangan (Gonsuke). Tak lama Chizuko menikah dan pergi ninggalin rumah, ia menitipkan Hachi ke Ueno. Ditinggalkan putri tunggal, Ueno kesepian, menumpahkan kasih sayang ke Hachi bahkan sangking “gila”nya Istri Ueno sempet cemburu. Dari kecil Ueno ngurus, ngajak main, jalan-jalan bersama sampe semua orang mengenal baik. Ketika beranjak besar, Ueno selalu ngajak Hachi mengantarnya ke stasiun setiap hari. Bulan beranjak bulan, Ueno meninggal waktu ngajar, kemudian Istri Ueno tinggal bersama anaknya di daerah lain dan mereka ga bisabawa Hachi karena akan selalu mengingaktak ke Ueno. Nasib Hachi dititip ke kerabat2 namun selalu kabur dan tetap pergi ke stasiun pagi hari kembali sore hari menunggu hingga larut. Hachi kembali ke rumah Ueno dulu namun pemilik baru tidak menyukai anjing. Meski terlantar hidup dijalanan Hachi tetap datang setiap hari, menunggu majikan Ueno kembali selama 9 tahun sampai meninggal. Cerita versi Jepang mengadopsi langsung tale setempat, tanpa merubah seting waktu atau karakter tokoh, semua dibuat apa adanya.

Ada perbedaan dalam versi Hollywood. Seorang anak cerita tentang pahlawan bagi dirinya di depan kelas, si anak cerita tentang anjing sang kakek yang tidak lain tidak bukan adalah Hatchi (Flashback gitu). Hachi adalah anjing yang dikirim seseorang dari Jepang ke Amerika sana namun dalam perjalanan anjing kecil ini terjatuh di stasiun kemudian ditemukan oleh Richard “Parker” Gear (aka Ueno dalam versi Jepang). Istri Parker tidak suka keberadaan Hachi meski akhirnya maklum juga gara2 Parker keliatan akrab banget ma peliharaan barunya. Nama “Hachi” pemberian teman Parker berbeda dengan HJ dimana nama langsung dikasih Ueno. Seting tahun juga sekitar 1996an bukan 1923. Oh iya dan Parker adalah profesor bidang musik. Hachi – Parker semakin dekat, sampai parker meninggal waktu ngajar Hachi masih tetep pergi pagi2 dan menjemput sore hari. Perbedaan cukup mencolok waktu anak Parker (sudah berkeluarga) mengurus Hachi namun akhirnya ngebebasin Hachi gara2 suka kabur. Hachi hidup dijalanan dan diberi makan rutin sama orang2 sekitar stasiun kemudian mati 9 tahun kemudian.

Gw jauh lebih suka HJ daripada HH (Hachiko Hollywood), HH banyak kedekatan yang ga kegambar, banyak logika dan reason yang ga kuat, banyak adegan2 dramatis jadi sangat biasa. Nggak touchy sama sekali malah cenderung ngebosanin. Ikatan emosional antar pemain dan Hachi kurang banget. Dialog2 HH juga kurang berisi. Ilustrasi musik sepanjang cerita malah ganggu coz semua adegan bahkan yang ga ada dramatisasi di kasih musik segala... its over.... lagi2, reason kenapa Parker berpergian ga beglitu jelas, kalau ke universitas harus pake kereta kenapa tidak nampak intens, seberapa jauh antara kota Ia tinggal dengan universitas, kerutinan inilah yang bikin chamistry Pater ma Hachi berasa kurang. HJ menampilkan rutinitas dengan jelas, Sibuya dan Tokyo adalah kota berbeda yang tidak terlalu jauh (mungkin) dan semua orang paham kalau berpergian dengan kereta tuh habit orang Jepang, jelas ga ada pertanyaan alasan lagi. Salah satu faktor penting juga, HJ ngegambarin keteguhan Hachi waktu melarikan diri berkali2 meski dirante, jauh pula tapi tetep balik ke Stasiun Sibuya tepat waktu sampe terlunta2 tanpa arah tujuan, beda banget ma HH dimana si Hachi dibiarkan bebas aja ma anak Parker yang katanya “kalau kamu perlu pergi.. ya pergi saja”.. kurang lebih begitu... udah perjuangan Hachi Cuma sekali aja kabur.

Dari aspek akting Gw juga jauh lebih suka HJ, walau ga kenal ma pemaen2nya tapi semua terasa pas, penempatan karakter Ueno, istri, anak, menantu, para pembantu rumah tangga, kerabat dekat keluarga Ueno, tetangga, orang2 sepanjang jalan stasiun, pembeli rumah Ueno, pedagang sate di stasiun bahkan para berandalan punya arti kuat dalam cerita dengan kekuatan karakter masing2, bagaimana si pembantu tidak suka ke anjing tapi harus ngurus anjing, sangat menarik. Berbeda dengan HH dimana Gw liat karakter2 masih sangat lemah ga punya kepribadian khas sehingga terasa flat bahkan beberapa karakter hilangpun ga masalah sama sekali, motivasi setiap karakter ga terasa, emosi Richard ke si anjing ga terlihat kalo “bener2 cinta mati”. Termasuk cast anjing itu sendiri, emang waktu kecil lucuan Hachi HH tapi begitu gede akting Hachi HJ tetep juara, ekspresinya, gesturenya, tatapan matanya, apalagi waktu hidup dijalanan 9 tauh terlihat Hachi makin menyedihkan, kurus dan kotor:bd, kalo di HH si anjing masih montok dan waktu muda terlihat terlalu “nakal”, sok2 masuk ke kamar majikan segala, sok2 bkin keributan... ah ngga banget.

Segi setting HH masih susah meningkatkan mood cerita, apa ga terlalu “kuno” untuk set taun 1998? Tidak adakah istimewa2nya juga dalam artistik, biasa, Keliatan nanggung, sungguh setting memang penting bangun suasana. HJ menyuguhkan kota kecil Sibuya dengan tradisi keJepangan. Ueno memakai baju khas Jepang plus sendal kayu (yang keliatan ga nyaman banget itu lho...) sedangkan orang sekitarnya pake baju biasa aja, itu udah menunjukan “level’ profesor yang bersahaja. Rumah2 Jepang tempo dulu dengan koridor panjang yang harus di pel dengan cara membungkuk sambil berlari macam komik2 anime, telepon taun 1923 yang masih sangat jarang... lucu aj.

Huah... Gw jadi keingetan kata2 seorang cewe bule bernama Katinka “Selain Ide, yang paling penting dalam sebuah film adalah cara bertutur (penceritaan)”. Begitu liat Hachiko jadi setuju banget2. Gimana sebuah ide yang sama, runtun sama jadi bisa berbeda “rasa” sama sekali. Seperti romeo n juliet, dibuat oleh ratusan sineas namun selalu ada yang punya penceritaan lain, rasa lain, mood lain. Gampangnya ide sama kaya singkong tergantung setiap orang menyajikan tuh singkong. Lanjut katinka “ide bagus belum tentu jadi bagus kalau cara bertuturnya salah dan ide yang sederhana bisa jadi menarik kalau dibuat dengan penceritaan yang baik..”. Gw setuju banget deh neng :)

Pesan Hachiko tetep sama walo dibikin 2 Versi yaitu “Kesetiaan”...

* Akita dogs : The Akita Inu (秋田犬?) is a breed of large dog originating in Japan, named for Akita Prefecture, where it is thought to have originated. It is sometimes called the Akita-ken based on the Sino-Japanese reading of the same kanji. It is considered a separate breed from the American Akita in most countries (with the exception of the American and Canadian Kennel Clubs) as requested by the Japanese Kennel Club. The Japanese Akita Inu is quite uncommon in most countries.

Untuk kisah lengkap si anjing akita ini bisa akses
http://id.wikipedia.org/wiki/Hachik%C5%8D

Penulis : Robby Prasetyo
Disadur dari tulisan Robby Prasetyo di http://obbye.blogspot.com/2010/04/hachiko.html

Comments (0)

Posting Komentar