|Pick Your Trophy in " FORSI AWARDS NIGHT" on 8th March 2009 start 16.00 in front of Graha Sanusi||NEW - foto2 Workshop 2008 HANYA di [ALBUM CC]| CCers Jangan lupa.. TOLONG DUNK ISI PROFIL KALIAN untuk data base CC biar bisa terus di inget generasi mendatang - Cukup klik [Form CCers] aja - JANGAN LUPA YACK:-)| |
Minggu, April 25, 2010 0 komentar

Clash Of The Titans

Dituliskan oleh Alam Suryo Wibowo CC 2007 

Cerita Biasa yang Dikemas dengan Tidak Luar Biasa

Perseus (Sam Worthington) lahir atas hubungan terlarang antara Zeus dengan seorang permaisuri raja yang melawannya. Karena merasa kesal, sang raja akhirnya membuang permaisuri beserta anaknya ke dalam lautan. Perseus selamat namun ibunya tidak. Perseus kemudian diselamatkan oleh awak kapal yang tengah berlayar di lautan. Mengikuti jejak sang awak kapal, Perseus tumbuh menjadi remaja yang kuat dan tangguh.
Perjalanan Perseus mulai berubah saat dirinya memasuki kawasan Argos, kawasan pemukiman yang warganya tidak percaya lagi dengan kekuatan para dewa, dimana dia diyakini sebagai manusia setengah dewa. Keangkuhan warga Argos yang tidak lagi ingin menyembah dewa dimanfaatkan Hades, dewa kejahatan, untuk membumihanguskan Argos sekaligus Zeus dengan peliharaannya, Kraken, gurita besar yang ganas dan menyeramkan.

Demi menyelamatkan Argos, Perseus menjadi salah satu prajuritnya guna melawan Kraken nantinya. Sejak saat itu, hari-hari Perseus menjadi lebih berat dan genting dengan hadirnya musuh-musuh yang harus dilawannya. Hingga pada akhirnya musuh terbesarnya muncul, Kraken. Dengan bermodalkan kepala medusa yang dengan sinar dari matanya mampu mengubah apapun menjadi batu, akhirnya Perseus mampu melumpuhkan Kraken dan menyelamatkan putri Andromeda yang dijadikan sebagai persembahan warga 
Argos. Dengan demikian, Argos selamat dan Perseus dijadikan sebagai dewa oleh mereka.

Film yang sempat rilis tahun 1981 dengan judul yang sama ini berusaha dihadirkan kembali oleh Louis Leterrier dengan kecanggihan teknologi yang jelas lebih baik daripada film aslinya. Kehadiran Sam Worthington pun dirasa menjadi salah satu daya tarik film ini agar mampu dinikmati para pecinta film seluruh dunia. Sam Worthington yang baru saja melejit namanya lewat film Avatar diharapkan mampu menaikkan nilai jual film ini.

Tidak hanya itu, daya tarik jual film ini turut pula dirasakan melalui kostum dan setting tempat dari setiap adegan dalam film ini. Kostum yang detail dan setting tempat yang menarik diyakini mampu memikat hati penonton. Pergerakan musik yang dihadirkan dalam film ini pun mampu membangkitkan suasana menjadi seperti apa yang dibayangkan sang sutradara. Ada kalanya musik mengeras, mengecil, bahkan tidak ada sama sekali.

Sayangnya, penggarapan musik yang baik ini kurang diimbangi dengan penggarapan cerita yang baik pula. Cerita dirasa monoton dan kurang berkembang di tengah-tengah film. Penonton seolah dibuai dengan alur cerita yang maju tanpa ada pergolakan konflik yang sangat beragam di dalamnya. Dalam beberapa adegan, editing dinilai kasar, contohnya saat adegan di pasar yang menuntut sorak ramai pengunjung pasar, kurang diperhatikan suaranya oleh editor, sehingga saat pergantian scene, suara menjadi tidak sekeras scene sebelumnya, yang berakibat pada berkurangnya cita rasa penonton yang menikmatinya.
Kamera yang bergoyang saat adegan Perseus dihakimi oleh petinggi desa Argos pun justru membuat adegan ini menjadi lebih tidak menarik. Pergerakan kamera saat adegan Perseus dan kawan-kawan melawan kalajengking pun menjadikan adegan ini terlihat lebih membingungkan. Efek cahaya matahari yang beberapa kali menutupi pemain dirasa mengandung nilai estetika yang tinggi, namun menjadi kurang indah tatkala pemain menjadi tidak terlalu kelihatan dan lebih terhalangi oleh cahaya matahari ini.

Art dalam ini sangat terlihat diperhatikan oleh art director-nya. Akan tetapi, akan terasa biasa saja saat art yang ditampilkan sudah dapat ditebak oleh penonton. Maka tidak ada yang spesial dalam penggarapan art dalam film ini.

Meskipun penggarapan cerita, screenplay, dan art dirasa biasa saja, namun harus kita akui bahwa film ini berhasil menghibur penonton dengan diselipkannya adegan-adegan yang mengundang tawa justru di saat-saat genting. Film ini juga berhasil memainkan emosi penontonnya dalam adegan yang memang seharusnya menegangkan.

Keberanian sang sutradara untuk menghadirkan kisah pertarungan antara dewa dan manusia patut diacungkan jempol. Namun satu hal yang harus diwaspadai adalah, akan lebih baik apabila keberanian diimbangi dengan pengembangan cerita dan pengemasan keseluruhan film dengan baik pula, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa film ini berisikan cerita biasa yang dikemas dengan tidak luar biasa.

Read more!
Kamis, April 15, 2010 0 komentar

Hachiko

Pertarungan antara anjing Jepang dan anjing Amerika

Sangat keren film bertema loyalitas anjing bernama Hachi yang sudah melegenda di Jepang sana sampai dibikin seri komik, anime dan film sampai2 Hollywood juga kepincut buat ulang film yang judul asli “Hatchiko Monogatari” tentu dengan style berbeda. Untuk kali pertama Gw liat film dengan 2 versi, kalo sebelum2nya nonton satu versi aja cukup tapi Hachiko beda, so Gw liat dulu versi asli buatan Jepang (1987) karya sutradara Seijirô Kôyama baru beberapa hari kemudian liat versi Amerika. Eeeeemm meski punya akar cerita sama namun “rasa” beda banget. Jadi bersemangat neh membandingkan versi Jepang VS Amerika, tentu fair kan membandingkan media sederajat, lain jika kita bandingin film dengan novel. Oh iya dalam tulisan nanti akan sangat banyak spoiler2 cerita.

PERINGATAN KERAS! TIDAK DIANJURKAN UNTUK ORANG2 YANG BELUM MELIHAT HACHIKO DAN INGIN MENDAPATKAN SENSASI KEJUTAN KETIKA MENYAKSIKAN NANTI!!!!.

Tanpa buang banyak kata (lagi) mari mulai “membandingkan”

Pertama dari unsur cerita. Hachiko versi Jepang (HJ) bercerita tentang seekor anjing keturunan langsung Akita* yang sudah lama dinantikan Chizuko anak seroang profesor agrikultur Universitas Tokyo Hidesaburō Ueno. Maka setelah beberapa hari menempuh perjalanan kereta Ōdate (perfektur Akita) – Sibuya tiba juga si anak anjing di kediaman Oeno, tentu seisi keluarga sangat bahagia meski si ibu Chizuko sempat khawatir anaknya akan depresi lagi kaya waktu dulu kehilangan anjing kesayangan (Gonsuke). Tak lama Chizuko menikah dan pergi ninggalin rumah, ia menitipkan Hachi ke Ueno. Ditinggalkan putri tunggal, Ueno kesepian, menumpahkan kasih sayang ke Hachi bahkan sangking “gila”nya Istri Ueno sempet cemburu. Dari kecil Ueno ngurus, ngajak main, jalan-jalan bersama sampe semua orang mengenal baik. Ketika beranjak besar, Ueno selalu ngajak Hachi mengantarnya ke stasiun setiap hari. Bulan beranjak bulan, Ueno meninggal waktu ngajar, kemudian Istri Ueno tinggal bersama anaknya di daerah lain dan mereka ga bisabawa Hachi karena akan selalu mengingaktak ke Ueno. Nasib Hachi dititip ke kerabat2 namun selalu kabur dan tetap pergi ke stasiun pagi hari kembali sore hari menunggu hingga larut. Hachi kembali ke rumah Ueno dulu namun pemilik baru tidak menyukai anjing. Meski terlantar hidup dijalanan Hachi tetap datang setiap hari, menunggu majikan Ueno kembali selama 9 tahun sampai meninggal. Cerita versi Jepang mengadopsi langsung tale setempat, tanpa merubah seting waktu atau karakter tokoh, semua dibuat apa adanya.

Ada perbedaan dalam versi Hollywood. Seorang anak cerita tentang pahlawan bagi dirinya di depan kelas, si anak cerita tentang anjing sang kakek yang tidak lain tidak bukan adalah Hatchi (Flashback gitu). Hachi adalah anjing yang dikirim seseorang dari Jepang ke Amerika sana namun dalam perjalanan anjing kecil ini terjatuh di stasiun kemudian ditemukan oleh Richard “Parker” Gear (aka Ueno dalam versi Jepang). Istri Parker tidak suka keberadaan Hachi meski akhirnya maklum juga gara2 Parker keliatan akrab banget ma peliharaan barunya. Nama “Hachi” pemberian teman Parker berbeda dengan HJ dimana nama langsung dikasih Ueno. Seting tahun juga sekitar 1996an bukan 1923. Oh iya dan Parker adalah profesor bidang musik. Hachi – Parker semakin dekat, sampai parker meninggal waktu ngajar Hachi masih tetep pergi pagi2 dan menjemput sore hari. Perbedaan cukup mencolok waktu anak Parker (sudah berkeluarga) mengurus Hachi namun akhirnya ngebebasin Hachi gara2 suka kabur. Hachi hidup dijalanan dan diberi makan rutin sama orang2 sekitar stasiun kemudian mati 9 tahun kemudian.

Gw jauh lebih suka HJ daripada HH (Hachiko Hollywood), HH banyak kedekatan yang ga kegambar, banyak logika dan reason yang ga kuat, banyak adegan2 dramatis jadi sangat biasa. Nggak touchy sama sekali malah cenderung ngebosanin. Ikatan emosional antar pemain dan Hachi kurang banget. Dialog2 HH juga kurang berisi. Ilustrasi musik sepanjang cerita malah ganggu coz semua adegan bahkan yang ga ada dramatisasi di kasih musik segala... its over.... lagi2, reason kenapa Parker berpergian ga beglitu jelas, kalau ke universitas harus pake kereta kenapa tidak nampak intens, seberapa jauh antara kota Ia tinggal dengan universitas, kerutinan inilah yang bikin chamistry Pater ma Hachi berasa kurang. HJ menampilkan rutinitas dengan jelas, Sibuya dan Tokyo adalah kota berbeda yang tidak terlalu jauh (mungkin) dan semua orang paham kalau berpergian dengan kereta tuh habit orang Jepang, jelas ga ada pertanyaan alasan lagi. Salah satu faktor penting juga, HJ ngegambarin keteguhan Hachi waktu melarikan diri berkali2 meski dirante, jauh pula tapi tetep balik ke Stasiun Sibuya tepat waktu sampe terlunta2 tanpa arah tujuan, beda banget ma HH dimana si Hachi dibiarkan bebas aja ma anak Parker yang katanya “kalau kamu perlu pergi.. ya pergi saja”.. kurang lebih begitu... udah perjuangan Hachi Cuma sekali aja kabur.

Dari aspek akting Gw juga jauh lebih suka HJ, walau ga kenal ma pemaen2nya tapi semua terasa pas, penempatan karakter Ueno, istri, anak, menantu, para pembantu rumah tangga, kerabat dekat keluarga Ueno, tetangga, orang2 sepanjang jalan stasiun, pembeli rumah Ueno, pedagang sate di stasiun bahkan para berandalan punya arti kuat dalam cerita dengan kekuatan karakter masing2, bagaimana si pembantu tidak suka ke anjing tapi harus ngurus anjing, sangat menarik. Berbeda dengan HH dimana Gw liat karakter2 masih sangat lemah ga punya kepribadian khas sehingga terasa flat bahkan beberapa karakter hilangpun ga masalah sama sekali, motivasi setiap karakter ga terasa, emosi Richard ke si anjing ga terlihat kalo “bener2 cinta mati”. Termasuk cast anjing itu sendiri, emang waktu kecil lucuan Hachi HH tapi begitu gede akting Hachi HJ tetep juara, ekspresinya, gesturenya, tatapan matanya, apalagi waktu hidup dijalanan 9 tauh terlihat Hachi makin menyedihkan, kurus dan kotor:bd, kalo di HH si anjing masih montok dan waktu muda terlihat terlalu “nakal”, sok2 masuk ke kamar majikan segala, sok2 bkin keributan... ah ngga banget.

Segi setting HH masih susah meningkatkan mood cerita, apa ga terlalu “kuno” untuk set taun 1998? Tidak adakah istimewa2nya juga dalam artistik, biasa, Keliatan nanggung, sungguh setting memang penting bangun suasana. HJ menyuguhkan kota kecil Sibuya dengan tradisi keJepangan. Ueno memakai baju khas Jepang plus sendal kayu (yang keliatan ga nyaman banget itu lho...) sedangkan orang sekitarnya pake baju biasa aja, itu udah menunjukan “level’ profesor yang bersahaja. Rumah2 Jepang tempo dulu dengan koridor panjang yang harus di pel dengan cara membungkuk sambil berlari macam komik2 anime, telepon taun 1923 yang masih sangat jarang... lucu aj.

Huah... Gw jadi keingetan kata2 seorang cewe bule bernama Katinka “Selain Ide, yang paling penting dalam sebuah film adalah cara bertutur (penceritaan)”. Begitu liat Hachiko jadi setuju banget2. Gimana sebuah ide yang sama, runtun sama jadi bisa berbeda “rasa” sama sekali. Seperti romeo n juliet, dibuat oleh ratusan sineas namun selalu ada yang punya penceritaan lain, rasa lain, mood lain. Gampangnya ide sama kaya singkong tergantung setiap orang menyajikan tuh singkong. Lanjut katinka “ide bagus belum tentu jadi bagus kalau cara bertuturnya salah dan ide yang sederhana bisa jadi menarik kalau dibuat dengan penceritaan yang baik..”. Gw setuju banget deh neng :)

Pesan Hachiko tetep sama walo dibikin 2 Versi yaitu “Kesetiaan”...

* Akita dogs : The Akita Inu (秋田犬?) is a breed of large dog originating in Japan, named for Akita Prefecture, where it is thought to have originated. It is sometimes called the Akita-ken based on the Sino-Japanese reading of the same kanji. It is considered a separate breed from the American Akita in most countries (with the exception of the American and Canadian Kennel Clubs) as requested by the Japanese Kennel Club. The Japanese Akita Inu is quite uncommon in most countries.

Untuk kisah lengkap si anjing akita ini bisa akses
http://id.wikipedia.org/wiki/Hachik%C5%8D

Penulis : Robby Prasetyo
Disadur dari tulisan Robby Prasetyo di http://obbye.blogspot.com/2010/04/hachiko.html

Read more!
Sabtu, April 25, 2009 0 komentar

SCENEFEST (Social Phenomenon Film Festival)

Ayo-ayo ikut!!!!
Persyaratan peserta : - Durasi terdiri dari 7 - 15 Menit - Film wajib bertema fenomena sosial - Tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan politik - Format dalam bentuk DVD (copy 3 + cover + label cd) - 1 tim boleh mengirimkan lebih dari 1 karya - Biaya pendaftaran : a. Pelajar Rp. 30.000 (per karya) b. Mahasiswa dan umum Rp. 35.000 (per karya) Pendaftaran dan penyerahan film : Minggu 29 Maret s.d 2 Mei 2009 di Sekre Cinemaks Jl. Ciseke No.32 Belakang rental DVD DIsneyland, Jatinangor Kategori Lomba : - Kategori film fiksi (6 kategori pemenang) - Kategori film dokumenter (1 kategori pemenang) Kategori pemenang 1. Kategori film fiksi a. Best Movie b. Best Directing c. Best Editing d. Best Screenplay e. Best Acting f. Best Cinematography 2. Best Documenter untuk film Documenter CP: andika 08561111813 Bagas 08561132029 Cinemaks Fisip Unpad

Read more!
Senin, Maret 16, 2009 7 komentar

SHORT STORY COMPETITION LA LIGHTS INDIE MOVIE 2009

..b u k t i i n...waktunya CERITA lo ga cuma OMONG doank
"Mau cerita lo di film-in ?"
Ikutin Short Story Competition dan dapetin kesempatan bikin script bareng script writter terkenal dalam program MEET THE EXPERTS yaitu: Salman Aristo (writer Laskar Pelangi; Ayat-ayat cinta; Jomblo; Alexandria dll…) dan Titien Wattimena (writer Mengejar Matahari; Bukan Bintang Biasa; LOVE; the Butterfly dll…) Empat cerita terbaik akan difilmkan dalam bentuk film pendek berdurasi maksimal 15 menit dalam program La Lights Indie Movie 2009." Persyaratan pesertanya sebagai berikut:
  • Terbuka untuk umum
  • Peserta umur 18 tahun - 30 tahun
  • Kumpulkan short story maksimal 2 halaman folio, 1,5 spasi
  • Lampirkan dan isi formulir yang dapat didownload lewat www.la-lights.com, enjoyindiemovie.multiply.com atau lewat email panitia la. indiemovie@gmail.com
  • Kriteria Cerita:
  • o Bertema dunia anak muda
  • o Tidak menampilkan tokoh dibawah 18th
  • o Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
  • o Cerita harus original bukan jiplakan
  • o Belum pernah dipublish dalam bentuk apapun
  • Pengumpulan karya mulai 1 April 2009
  • Deadline pengiriman 1 Juni 2009
  • Setiap peserta tidak boleh mengirimkan lebih dari satu cerita
  • Empat cerita terbaik akan diumumkan Juli 2009 dalam Indie Movie
  • Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
  • Kirim Ke sekretariat :
SET Film Jl. Sinabung No.4B, Kebayoran Baru Jakarta Selatan - 12120 Telp. 021 727 99227/727 99226 HP Panitia 0815 1059 4899 Contact Person: Fira/Anunk so, cerita kamu bakalan bisa ngetop ga cuma sampai kampung kamu doank klo mang okey tu cerita, bakalan deh tuh cerita kamu diFILMin ma temen2 INDIE film maker pingin tau lengkapnya nih mampir aja di http://www.lalightsindiefest.com/indiemovie/

Read more!
Selasa, Maret 10, 2009 1 komentar

JOGJA INDIE FILM FESTIVAL

Syarat & Ketentuan Peserta 1. Karya orisinil & belum pernah diikut sertakan dalam festival 2. Tema film bebas 3. Durasi 10 - 20 menit 4. Format DVD Rangkap 2 5. Batas akhir pengumpulan karya 20 maret 2009 Waktu & Tempat Pendaftaran 1 - 20 maret 2009 Sekretariat KOMAKOM, Gedung (E) Ki bagus hadikusuma Lt. 1, kampus terpadu UMY Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55183
Read more!