|Pick Your Trophy in " FORSI AWARDS NIGHT" on 8th March 2009 start 16.00 in front of Graha Sanusi||NEW - foto2 Workshop 2008 HANYA di [ALBUM CC]| CCers Jangan lupa.. TOLONG DUNK ISI PROFIL KALIAN untuk data base CC biar bisa terus di inget generasi mendatang - Cukup klik [Form CCers] aja - JANGAN LUPA YACK:-)| |
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Jumat, April 30, 2010 0 komentar

B.L.A.C.K




"Just like mine, will not start with A, B, C, D and E. But with B,L,A,C,K"







India...India... dan India...hhhuuufff... baiklah Gw akui beberapa film Bollywoo kali ini sangat menyita perhatian. Setelah berurai air mata melalui “My name is Khan” dan “3 Idiots” seorang teman freak ngasih film India lagi berjudul “B.L.A.C.K”. Awalnya ga terlalu tertarik nonton tapi setelah dikompor-komporin “Kalo bilang My name is Khan ma 3 Idiots bagus, U harus nonton ini...”...eeemmm nampak Oke. Jumat siang, bukan hari sempurna untuk nonton film coz suhu kamar lagi panas2nya tapi untuk ngisi waktu jadi Gw liatlah tuh “B.L.A.C.K”....


“B.L.A.C.K” (2005). mengambil kisah nyata perjuangan legendaris Helen Keller si Tunarungu, tunanetra dan tunawicara (tuli, buta dan bisu) sejak bayi kelahiran Alabama USA 1880 dalam menjalani kehidupannya bersama seorang guru Anne Mansfield Sullivan Macy yang mengajarkan semua hal sampai Helen berhasil lulus Bachelor of Arts degree dan menjadi staff pengajar serta aktivis. kehidupan Helen tentu sangat sulit mengingat keterbatasan namun keberhasilannya bikin sebagian besar orang yang dengar kisah Helen terinspirasi akan arti semangat dan perjuangan hidup.


“B.L.A.C.K” mengadopsi kisah Helen dengan begitu apik dan ditel, selain penyesuaian peran dan seting selebihnya sama kaya kisah asli. Catherine 'Cathy' McNally (Shernaz Patel) begitu bahagia atas kelahiran anak pertamanya Michelle McNally (Ayesha Kapoor) namun ketika Paul McNally (Dhritiman Chatterjee) sang ayah mengabarkan analsa dokter kalau putri pertama mereka menderita deafblind (buta-tuli) sontak kebahagian sirna. Michelle tumbuh seperti anak keterbelakangan mental, brutal, pembangkang, tak terkendali, bertindak semaunya tentu dapat dipahami ketika seorang anak tidak dapat rangsangan dan berinteraksi secara normal dengan dunia luar. Michelle hanya terkungkung pada dunia “hitam”nya saja tanpa ada harapan. Prilaku tak terkendali Michelle juga mengancam keselamatan seisi keluarga terutama adiknya, Sara. Maka saat usia 7 tahun Paul memutuskan mengirim Michelle ke rumah sakit jiwa. Sebagai seorang ibu, Mrs. McNally jelas2 tidak setuju dan memohon kesempatan satu kali lagi. Mrs McNally mendatangkan guru dari sekolah khusus dialah  Debraj Sahai (Amitabh Bachchan), seorang pemabuk dengan kebiasaan eksentrik nan nyeleneh namun filosofis dan sangat paham menangani anak2 deafblind. Kisah luar biasa baru saja dimulai, perjalanan panjang Debraj menjadikan Michelle yang mandiri dan berpendidikan tinggi. Kesulitan, suka duka, perjuangan, tantangan menjadikan “B.L.A.C.K” mengalir dinamis, membawa penonton ke ending tak terbayangkan.


Jujur aja Gw ga kenal tuh sama Sanjay Leela Bhansali sang sutradara namun kemampuan mengolah cerita patut diacungi 4 jempol. Sangat mengalir meski di awal2 aga membingungkan. Bgaimana emosi penonton sedikit demi sedikit digiring hingga kita dapat merasakan aura dan situasi di film hingga klimaks penuh emosi dibalut dialog2 touchy penuh makna. Tak lupa sentuhan cinematografi ciamik, ga kalah rapi, sangat enak dilihat, bagaimana tangan2 dibawah rintikan air, bagaimana ketika Debraj duduk di air mancur, bagaimana visualisasi interior rumah, bagaimana lingkungan sekitar, sangat memukau. Kalo kata sang referal “film ni ga berasa indianya” dan Gw setuju meski ada juga scene2 “pakem” Indianya tapi itu tidak mengganggu sama sekali bahkan memperkuat mood. “B.L.A.C.K” punya pesan moral kuat sekali sampe bisa memotivasi setiap penonton untuk bertindak apalagi diangkat dari kisah nyata. Gw rasa “B.L.A.C.K” bukan seperti film mainstreem biasa namun jauh lebih bermakna.





Ayesha Kapoor si pemeran Michelle kecil yang merepresentasikan Helen kecil  juga menyita perhatian Gw, akting sebagai anak deafblind terasa oke banget, natural, gemes, ngeri, simpati kadang lucu. Gesture dan ekspresi bikin penonton percaya kalo dia deafblind beneran. Tak heran kalau Ayesha diganjar “Best Actress in a Supporting Role” oleh “Awards of the International Indian Film Academy” tahun 2005 dan “Best Supporting Actress” dalam ” Filmfare Awards” di tahun yang sama. 2 jempol untuk  Ayesha kapoor.

Ga aneh pula kalo anak2 kecil bahkan semua orang heboh banget waktu Amitabh Bachchan mau datang ke pemukiman kumuh India bahkan ada yang sampe rela nyebur ke tempat penampungan kotoran demi foto Mr Amitabh Bachchan dalam pembuka “Slumdog millionaire” karena emang Keren Banget. Ah Gw speechless mendeskripsikannya. Peran sebagai  Debraj Sahai (atau Anne Mansfield Sullivan Macy dalam kisah nyata) sangat keren, lagi2  Sanjay Leela Bhansali bikin Gw berfikir “jangan2 nih Amitabachan bener2 guru deafblind lagi???” emosi dengan lawan bain juga sangat terasa, kalo orang sebut kemistri mereka yoi banget, dengan kesabaran, ketegasan, perjuangan Debraj membimbing Michelle hingga konflik diri sendiri menumbuhkan simpati penonton. Salut untuk bang Amitabh.



Meski Rani Mukherjee berperan sebagai Michelle remaja-dewasa sepertinya terkenal dikalangan pecinta film India tapi Gw ga begitu terpukau meski aktingnya harus diakui mengesankan sekali, mood Ayesha kapoor juga tetap terjaga. Penilaiannya keren.


Tentu Gw yakin bagusnya ni film juga ditunjang riset yang baik. Semua keliatan "wajar" n masuk akal mulai dari dialog, akting terutama gesture para pemain. Enang bukan full fiction atau film fantasi sehingga lebih mudah diterima logika. Hasil riset juga diaplikasikan baik oleh pemain sehingga apa yang tampil jadi terasa real.


Secara keseluruhan ini film “Highly recommended” banget, selain ceritanya yang memang udah touchy abis, akting memukai, sinematografi cantik dan pesan yang kuat tidak diragukan lagi “B.L.A.C.K” patut disaksikan semua orang, semua kalangan.


NB : “The miracle worker” adalah film pertama yang kengangkat kisah Helen Keller dengan visualisasi, peran dan situasi yang dibuat semirip mungkin dengan kisah asli. Release 28 July 1962 dengan sutradara Arthur Penn dan penulis William Gibson. “The miracle worker” juga berhasil menyabet OSCAR “Best Actress in a Leading Role, ” Best Actress in a Supporting Role” dan nominasi ” Best Costume Design, Black-and-White”, ” Best Director”, ” Best Writing, Screenplay Based on Material from Another Medium” pada Academy Awards, USA 1963. Selain itu berbagai penghargaan internasional juga ikut mengiringi keberhasilan “The miracle worker” menghanyutkan penonton.

Ditulis oleh Robby Prasetyo CC 2005
diImport dari : Obbye's blog http://obbye.blogspot.com

Read more!
Minggu, April 25, 2010 0 komentar

Clash Of The Titans

Dituliskan oleh Alam Suryo Wibowo CC 2007 

Cerita Biasa yang Dikemas dengan Tidak Luar Biasa

Perseus (Sam Worthington) lahir atas hubungan terlarang antara Zeus dengan seorang permaisuri raja yang melawannya. Karena merasa kesal, sang raja akhirnya membuang permaisuri beserta anaknya ke dalam lautan. Perseus selamat namun ibunya tidak. Perseus kemudian diselamatkan oleh awak kapal yang tengah berlayar di lautan. Mengikuti jejak sang awak kapal, Perseus tumbuh menjadi remaja yang kuat dan tangguh.
Perjalanan Perseus mulai berubah saat dirinya memasuki kawasan Argos, kawasan pemukiman yang warganya tidak percaya lagi dengan kekuatan para dewa, dimana dia diyakini sebagai manusia setengah dewa. Keangkuhan warga Argos yang tidak lagi ingin menyembah dewa dimanfaatkan Hades, dewa kejahatan, untuk membumihanguskan Argos sekaligus Zeus dengan peliharaannya, Kraken, gurita besar yang ganas dan menyeramkan.

Demi menyelamatkan Argos, Perseus menjadi salah satu prajuritnya guna melawan Kraken nantinya. Sejak saat itu, hari-hari Perseus menjadi lebih berat dan genting dengan hadirnya musuh-musuh yang harus dilawannya. Hingga pada akhirnya musuh terbesarnya muncul, Kraken. Dengan bermodalkan kepala medusa yang dengan sinar dari matanya mampu mengubah apapun menjadi batu, akhirnya Perseus mampu melumpuhkan Kraken dan menyelamatkan putri Andromeda yang dijadikan sebagai persembahan warga 
Argos. Dengan demikian, Argos selamat dan Perseus dijadikan sebagai dewa oleh mereka.

Film yang sempat rilis tahun 1981 dengan judul yang sama ini berusaha dihadirkan kembali oleh Louis Leterrier dengan kecanggihan teknologi yang jelas lebih baik daripada film aslinya. Kehadiran Sam Worthington pun dirasa menjadi salah satu daya tarik film ini agar mampu dinikmati para pecinta film seluruh dunia. Sam Worthington yang baru saja melejit namanya lewat film Avatar diharapkan mampu menaikkan nilai jual film ini.

Tidak hanya itu, daya tarik jual film ini turut pula dirasakan melalui kostum dan setting tempat dari setiap adegan dalam film ini. Kostum yang detail dan setting tempat yang menarik diyakini mampu memikat hati penonton. Pergerakan musik yang dihadirkan dalam film ini pun mampu membangkitkan suasana menjadi seperti apa yang dibayangkan sang sutradara. Ada kalanya musik mengeras, mengecil, bahkan tidak ada sama sekali.

Sayangnya, penggarapan musik yang baik ini kurang diimbangi dengan penggarapan cerita yang baik pula. Cerita dirasa monoton dan kurang berkembang di tengah-tengah film. Penonton seolah dibuai dengan alur cerita yang maju tanpa ada pergolakan konflik yang sangat beragam di dalamnya. Dalam beberapa adegan, editing dinilai kasar, contohnya saat adegan di pasar yang menuntut sorak ramai pengunjung pasar, kurang diperhatikan suaranya oleh editor, sehingga saat pergantian scene, suara menjadi tidak sekeras scene sebelumnya, yang berakibat pada berkurangnya cita rasa penonton yang menikmatinya.
Kamera yang bergoyang saat adegan Perseus dihakimi oleh petinggi desa Argos pun justru membuat adegan ini menjadi lebih tidak menarik. Pergerakan kamera saat adegan Perseus dan kawan-kawan melawan kalajengking pun menjadikan adegan ini terlihat lebih membingungkan. Efek cahaya matahari yang beberapa kali menutupi pemain dirasa mengandung nilai estetika yang tinggi, namun menjadi kurang indah tatkala pemain menjadi tidak terlalu kelihatan dan lebih terhalangi oleh cahaya matahari ini.

Art dalam ini sangat terlihat diperhatikan oleh art director-nya. Akan tetapi, akan terasa biasa saja saat art yang ditampilkan sudah dapat ditebak oleh penonton. Maka tidak ada yang spesial dalam penggarapan art dalam film ini.

Meskipun penggarapan cerita, screenplay, dan art dirasa biasa saja, namun harus kita akui bahwa film ini berhasil menghibur penonton dengan diselipkannya adegan-adegan yang mengundang tawa justru di saat-saat genting. Film ini juga berhasil memainkan emosi penontonnya dalam adegan yang memang seharusnya menegangkan.

Keberanian sang sutradara untuk menghadirkan kisah pertarungan antara dewa dan manusia patut diacungkan jempol. Namun satu hal yang harus diwaspadai adalah, akan lebih baik apabila keberanian diimbangi dengan pengembangan cerita dan pengemasan keseluruhan film dengan baik pula, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa film ini berisikan cerita biasa yang dikemas dengan tidak luar biasa.

Read more!
Jumat, Februari 06, 2009 0 komentar

Slumdog Millionare

Ditulis oleh : Lulu Fahrullah
1. Tentang Jawaban Atas Sebuah Pertanyaan
Sebuah pertanyaan muncul dalam benak seorang pemuda India berumur 18 tahun bernama Jamal Malik, pertanyaan yang memuat begitu banyak hal sentimentil di dalamnya dan menantang logika untuk menjawabnya. Ia tampak resah malam itu, bukan hanya karena ia belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menganggunya, tapi lebih dari sekedar itu, ia kini sedang duduk di kursi panas sebuah Mega Quiz Dunia, “Who Wants To Be a Millionaire?” dan satu pertanyaan lagi akan membuat dia menjadi seorang milyuner, sebuah pencapaian yang bahkan seorang dokter dan professor terpintar India pun tidak dapat menandinginya. Kejadian bersejarah itu mau tidak mau memunculkan sebuah keraguan dan prasangka buruk, apakah Jamal berbuat curang? “Ayolah dia kan hanya seorang pemuda dari kawasan kumuh (Slumdog), apa yang mungkin (kalangan) dia ketahui?” “Bagaimana dia bisa mengalahkan pencapaian para intelektual yang tingkat pendidikannya jauh di atasnya?” begitu komentar sinis polisi yang menginterogasi Jamal karena menduga ia berbuat curang. Lalu apa jawaban Jamal saat para polisi itu menginterogasi bahkan “menyiksa”nya? Dengan tenang ia menjawab “I Just Knew The Answer, You Don’t Have To be A Genius To Answer The Questions”. Jawaban yang selanjutnya menjadi pembuka tabir kisah hidup Jamal beserta kausalitas di dalamnya. Sebuah premis unik dan menarik diusung oleh film Slumdog Millionaire besutan Danny Boyle ini, sutradara asal Inggris yang karya fenomenalnya “Trainspotting” tentang kehidupan para junkies sudah menjadi tontonan wajib para moviegoers. Kali ini Boyle menampilkan sesuatu yang lebih segar, hidup dan menghibur. Mengambil seluruh lokasi dan pemain asal India, Boyle menjadikan film ini lain daripada lain, Bollywood citra rasa Hollywood begitu banyak kritikus menjuluki film ini, tapi tentunya sangat jelas bahwa film ini lebih baik ketimbang film Bollywood-Hollywood semisal Bride and Prejudice, Bend It Like Beckham bahkan juga mungkin The Namesake dan Mansoon Wedding belum bisa menyamai level Slumdog Millionaire. Film pemenang Golden Globe 2009 untuk Best Picture kategori Drama ini menawarkan semangat perjuangan, pantang menyerah, dan pengorbanan yang dibalut oleh bumbu Cinta, dan tidak diragukan lagi bahwa film ini memang film tentang Cinta (We can’t live without love, can we, mate?). Ada satu hal penting yang perlu kita catat dan garisbawahi dalam film Slumdog Millionaire yakni bahwa film ini memberikan arti penting DESTINY (dibaca: takdir) bagi para tokoh di dalamnya. So now you know the right answer 4 the question above, right? =) 2. Nyoba Ngomong Soal Cinta dan Takdir Berbicara tentang Takdir, saya lantas teringat Kisah Cinta (sedap,,) teman-teman saya yang baru putus cinta atau bahkan mencari dan mempertahankan cinta mereka, begitu banyak kesan yang bisa saya rasakan ketika mendengar atau bahkan menjadi saksi mata kisah-kisah mereka tsb. Begitu banyak pertanyaan, keceriaan, keluhan yang saya terima, tak jarang pula mereka meminta saran dan nasihat kepada saya yang kebetulan saat itu berprofesi sebagai PELACUR (Pelayan Curhat, Sob ! Hehe,,). Dan setelah begitu banyak perdebatan diantara beberapa teman mengenai Love Things (Especially Girls Things,, No Girls No Child, Bro,, haha,,). Muncul pertanyaan-pertanyaan yang esensinya persis sama dengan apa yang Jamal, Pemuda Slumdog itu alami ;
  1. Apa yang kita perlukan untuk mendapatkan the right girl/man ?
  2. Apa yang kita perlukan untuk mempertahankan hubungan kita dengan belahan jiwa kita?
  3. Apa yang kita perlukan untuk melupakan orang yang kita sayangi dan meneruskan hidup tanpa-nya?
Saya yakin akan sangat beragam jawaban yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun satu hal yang pasti semua jawaban itu tidak terlepas dari DESTINY,, ya Takdirlah yang akan “memberikan” jalan akhir dari Kisah Cinta kita, Takdir dari Tuhanlah yang memberi warna berbeda pada kisah hidup kita, dan Takdir pulalah yang mempertemukan kembali Jamal dan Latika (Cinta masa kecil Jamal), setelah terpisah bertahun-tahun. ( So Sweeeeeeet,, ^_^ ) Mengingatkan perkataan motivator favorit saya Mario Teguh, “Kita tidak akan pernah mengetahui bagaimana Takdir akan memperlakukan kita di masa depan, sebagai manusia yang perlu kita lakukan adalah mengusahakan Takdir yang baik”
So My Friends Let’s Create Our Good Destiny, Let’s Keep Finding Our Love, Keep Protect Our Love, and Keep Believe that Love Will Always Around ! Cheers,, !! ^_^

Read more!